JAn64n 4d4 Du5t4

twitter
Mungkin maksudnya hanya bercanda atau berusaha “merakyat” dengan cara ngetwit informal. (Update: atau kalau menurut @yordaniac mungkin ini pesan casual tersirat Pak Menteri untuk mengajak operator selular untuk “jujur”, jangan ada dusta…) Tapi terlanjur dilabeli kontroversial di kasus twit-twit terdahulu & mungkin banyak netizen yang kurang puas dengan performa & kebijakan beliau, maka jadilah twit tersebut Trending Topic Twitter dengan seribu satu komentar yang beragam 😀

Chickenstrip 53: Doraemon

Bukan bermaksud nyemplung, hanya sedikit menyoal 😛

Tabula rasa… kertas kosong, dan kita semua mencintai kertas kosong kita masing-masing. Alkisah di suatu desa yang penuh dengan pelukis, orang-orang sibuk menyalahkan sebuah pohon. Konon pohon yang kebetulan bukan jenis tanaman asli desa itu mulai banyak dijadikan model lukisan oleh para pelukis. Mereka yang protes beralasan bahwa kertas-kertas kosong mereka kini berisi gambar pohon jelek itu. Bentuk dan warnanya memang jelek, tidak serapih dan sehijau tanaman pada umumnya yang biasa mengisi kertas kosong mereka dengan gambar yang indah.

Tapi mereka lupa, kertas kosong tidak bisa memunculkan gambar dengan sendirinya. Mereka sendiri yang harus memainkan kuas dan cat di atasnya, memindahkan obyek yang mereka lihat menjadi sebuah lukisan. Jelek atau tidaknya lukisan yang menimpa kertas kosong milik mereka, mereka lah sendiri yang bisa mengaturnya. Cukup palingkan pandangan dari si pohon jelek, sapukan kuas berdasar pemandangan pohon yang lain. Atau tetap menggambar si pohon jelek tapi hanya bagian-bagian kecilnya yang menarik, dikombinasikan dengan pemandangan lainnya. Tidaklah perlu menyalahkan si pohon jelek. Toh sejelek-jeleknya suatu ciptaan, selalu memiliki kegunaan, setidaknya untuk mahluk lainnya. Contohnya saja orang-orang desa sebelah, mereka terhibur dengan bentuk si pohon jelek. Setiap melewati pohon tersebut selepas bekerja di ladang, mereka selalu tersenyum melihat siluet pohon tersebut yang menyerupai kakek tua yang sedang teraduh-aduh menggaruk punggung.

Jadi? Apakah perlu mempermasalahkan si pohon jelek ini ataukah lebih baik membereskan kuas, cat dan teknik gambar masing-masing? Para pelukis yang lebih tahu. Saya sih belum dikaruniai kertas kosong 😀