Weekly Chickenstrip: WikiLeaks

wikileaks
1001 opini dan kehebohan terjadi di minggu-minggu belakangan ini terkait dengan WikiLeaks. Terlepas dari valid tidaknya bocoran-bocoran yang disajikan di dalamnya atau legal tidaknya penyajian jenis datanya, WikiLeaks adalah salah satu bentuk perang informasi besar, sebuah gerbang & tantangan baru mengenai transparansi & kebebasan informasi (walau tetap ada yang harus dibayar atas suatu “kebebasan” tingkat tertentu).

Lalu bagaimana dengan “scene” informasi digital lokal? Jadi makin pedulikah kita dengan keamanan informasi, transparansi informasi, kemampuan respon terhadap “perang” informasi? Sepertinya lagi-lagi orientasinya masih belum jauh-jauh dari kata sakti: blokir. “Tunggu saja…” demikian tulis beliau di Twitter, dilanjutkan dengan definisi agak salah dari WikiLeaks di tweetnya tersebut.

Weekly Chickenstrip 021: Blokir

cs0021
Bahwa sudah terlalu mudahnya mendapatkan akses ke content porno di internet, memang hal yang memprihatinkan dan harus segera diatasi. Tapi kalau cara mengatasinya dengan sensor internet dan blokir di level ISP atau titik akses besar bak Great Firewall of Cina sepertinya kurang efektif dan menimbulkan kerumitan teknis lanjutan. Implementasi teknis seperti yang ditulis oleh Pak Onno W. Purbo dalam artikel ini sepertinya lebih realistis.

Dan masalah lainnya adalah, kita bicara soal kata sensor di sini. Bukan mustahil suatu saat nanti “porn” berganti jadi brokoli, wortel, kangkung… atau topik “tidak penting” lainnya yang bukan sayur-sayuran, misalnya saja: kebebasan berpendapat di internet.

Chickenstrip 002: Google Public DNS

cc0002
Domain Name System (DNS) adalah teknologi yang membantu menerjemahkan nama domain (dalam format yang mudah diingat manusia, seperti http://www.wikimedia.org) ke alamat IP (IP address, berupa nomor dan titik seperti 145.97.39.155) saat kita beraktifitas di internet atau jaringan. Tanpa kita sadari banyak DNS atau name server membantu menerjemahkan request kita baik di jaringan lokal, ISP atau level yang lebih tinggi.

Kemarin Google meluncurkan layanan DNS yang diberi nama Google Public DNS. Kini setiap orang bisa memanfaatkan DNS server mereka yang beralamat di 8.8.8.8 dan 8.8.4.4. Google sepertinya makin menancapkan pengaruhnya di semua lini dan lapis kehidupan berinternet, dari lapis Google Search sebagai hulu, Chrome OS, Chrome Browser, AdSense dan daftar panjang produk/layanan Google lainnya.

Kelebihan yang ditawarkan sih katanya: Speed up your browsing experience, Improve your security, Get the results you expect with absolutely no redirection. Lalu bagaimana dengan OpenDNS? Walau dari segi fitur dan tujuannya agak berbeda (tapi agak mirip, IMHO), founder OpenDNS David Ulevitch memberikan penjelasan tentang head to head OpenDNS dengan Google Public DNS ini di blog OpenDNS. Mungkin ulasan dan pertimbangan lebih lengkap nanti bisa kita cari di blog-blog para administrator dan ahli jaringan.

Notes:
Kenapa Chickenstrip 002? Kemarin baru ngeh nomor 1-23 (dan beberapa nomer lain) masih ketinggalan di blog yang lama. Jadi sekalian dipindahin ke blog ini juga sekalian diretouch sedikit (font dan gambarnya masih versi awal). Mungkin nomor2 lainnya yang ketinggalan juga akan dire-post seperti ini saat kalau ada topik yang berhubungan.

Chickenstrip 136: Indonesian Local Content


1:2.7 versus 1:7.8, dari presentasi Donny BU saat diskusi “Lokal Konten, Pentingkah?” di kantor DetikBandung hari Sabtu yang lalu. Perbandingan produktivitas konten lokal antara pengguna internet Indonesia dan Singapura ini memang hanya berupa logika, hitungan, statistik dan riset sederhana yang masih jauh dari komprehensif dengan menggunakan mesin pencari Google. Tapi merupakan wacana penting yang berhasil diangkat oleh Vice President Publisher Group Detikcom tersebut.
Continue reading “Chickenstrip 136: Indonesian Local Content”