Cloud Computing


Lagi agak gatel ini kuping, belakangan ini segala macam dilabeli “cloud”. Suatu layanan lokal menggunakan infrastruktur internet dan beberapa server saja langsung dilabeli layanan blablabla cloud, ditambah dengan maraknya seminar-seminar komputasi awan dsb. Sedikit banyak mungkin tetap ada benarnya sih, istilah cloud atau awan sendiri memang metafor untuk internet, salah satunya berawal dari simbol awan yang digunakan untuk menggambarkan internet dalam diagram-diagram dan desain jaringan.

Tapi kalau bersedia meluangkan waktu untuk menyimak (minimal membaca Wikipedia) sekedar “memindahkan data ke awan” itu kah yang memang sedang berkembang di luar sana? Simak dulu perkembangan cloud computing dari mulai populernya Amazon Web Service yang mempelopori “infrastruktur cloud computing” sebagai layanan, lalu perkembangan Software as a Service dengan aplikasi komputasi spesifik (misal GoogleDocs untuk perkantoran, Salesforce untuk CRM dll.) hingga varian Web 2.0 yang mulai membuat para pengguna perorangan secara tidak sadar memanfaatkan platform cloud, lalu ke level yang lebih “seamless” dimana pengguna rumahan menyimpan data mereka ke cloud storage yang bisa dianggap menyatu dengan sistem desktop semacam Dropbox atau iCloud. Di sana ada berbagai macam faktor kemudahan deployment/setup, skalabilitas, integrasi platform, user experience dan masih banyak faktor lainnya yang mengingatkan kita bahwa cloud computing ini terdiri dari banyak layer yang kompleks.

Kalau sekedar penyedia hosting atau yang bermodal menyediakan server saja sudah berani memasang label “cloud computing”. Mungkin saya juga perlu melabeli Chickenstrip yang tersimpan dan tersebar di internet ini sebagai comicstrip berbasis cloud. Wow! Meh…

Twitter, Facebook & Intelijen

twitter
Materi lama, sempet nongol di Jakarta Post Minggu (waktu liputan Chickenstrip) & di buku pertama Chickenstrip. Diremake & dimunculkan lagi gara-gara @kramput nongolin lagi strip lama ini di Twitter berkaitan dengan isu rencana Badan Intelijen Negara (BIN) mengawasi sarana jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

Tapi jauh sebelum keramaian social media dan intelijen, bukankah seharusnya kita semua sadar bahwa apapun informasi tentang diri kita yang sudah bergulir di internet ada kemungkinan dilihat atau dipergunakan oleh siapapun yang bisa mengaksesnya? Belum ada Facebook atau Twitter di novel 1984. Di jaman ini mungkin George Orwell bakal bingung, kenapa para rakyat Oceania dengan senang hati melaporkan status & lokasi mereka kepada server-server milik Big Brother…