Sousenkyo

Sousenkyo, valg, elezione, general election. pemilu.. atau apapun namanya, sebenarnya hanya aktivitas yang nggak begitu berat, yang membakar jauh lebih sedikit kalori dibandingkan dengan bermain sepak bola lawan tim sepakbola paguyuban artis dan seleb. Ritual membolongi sebidang kertas di bagian dimana terdapat gambar atau foto pilihan ini sudah 2 kali dialami oleh Jajang. Dan dua-duanya dilewatinya dengan mencoblos dari negeri awan kapuk. Adalah hak kita untuk tidak memilih, tidak memilih adalah suatu pilihan, dan tidur nikmat di hari kerja yang tiba-tiba jadi hari libur nasional bagi Jajang adalah pilihan yang paling tepat. Tapi kali ini berbeda…

Pesta bolong-membolongi kertas kali ini berbeda di mata Jajang, memilih langsung pemimpin negara.. Jajang langsung teringat perkataan dosennya sewaktu di kampus dulu : “kepemimpinan adalah sesuatu yang luhur… setiap individu masyarakat memiliki keharusan (fardlu ‘ain) terlibat dalam mekanisme politik untuk menentukan pilihan pemimpin yang dianggap paling memenuhi syarat di antara warga masyarakat yang ada, inilah saatnya kita memilih pemimpin

Pilih yang paling memenuhi syarat, dalam kosa kata mahluk berintelejensia suam-suam kuku seperti Jajang juga bisa berarti: pilihlah yang paling mendingan. Tentu saja selain menganalisa visi, misi dan track record si calon.. Jajang juga berharap semoga pilihannya nanti tidak menjadi suatu ironi. Seperti halnya rakyat amerika yang memilih Woodrow Wilson di tahun 1916 dengan slogan “He kept us out of war”-nya yang terkenal, dan berbalik menjadi ironi ketika setahun kemudian Wilson ‘mencemplungkan’ amerika ke kancah perang dunia pertama.

Mereduksi lima pilihan menjadi satu pilihan mungkin adalah suatu hal yang mudah bagi Jajang, toh ia adalah lulusan perguruan tinggi, tidak perlu sampai harus melakukan dreaming condition untuk ber-cogito ala Descartes si filsuf perancis, hanya perlu sedikit bermain logika dan menelusuri sejarah sudah cukup membantu untuk menemukan alasan yang tepat untuk memilih satu pilihan calon, dari ‘yang paling mendingan’ setelah dianalisa bisa berubah menjadi ‘yang paling memenuhi syarat’. Tapi bagaimana dengan mereka yang ada di pelosok-pelosok terpencil sana? Di desa-desa terpencil seperti desa Viscos yang diceritakan oleh Paul Coelho dalam kisah “Sang Iblis dan Nona Prym”. Pesimisme akan moral manusia yang dipertanyakan sang iblis yang mampir di desa terpencil itu mungkin hampir sama dengan pesimisme tentang kemampuan para calon pemimpin negara ini, tapi kali ini pilihan (yang muncul karena pesimisme tersebut) yang disuguhkan kepada warga desa tidak hanya dua.. tetapi lima. Semoga di pelosok sana juga ada banyak Chantal Prym yang memiliki pemikiran “We have our own choices and contradictions . But we can live with the contradictions and choose the best of ourself. It’s a matter of choice… “.

One thought on “Sousenkyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s