WordPress dan Filsafat CMS

Dalam filsafat, pencarian akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar kenyataan dan ilmu pengetahuan terus berkembang sejak jaman Plato, Descartes, hingga Sartre.. dan tidak akan pernah berhenti karena pikiran manusia semakin haus dan berkembang. Menurut gue, begitu juga halnya dengan dunia content management system. Quest mencari suatu sosok cms yang ideal terus berlanjut seiring perkembangan internet dan programming, definisi ideal sendiri memiliki sudut pandang masing-masing. Layaknya empirisme yang diusung Locke atau Hume di dunia filsafat, aliran cms komersial sudah memiliki klasifikasi-klasifikasi suatu ultimate cms dengan ukuran yang jelas, bagi penganut aliran ini.. harga menunjukan kualitas, mungkin cms ala Vignette salah satu contohnya. Tapi aliran lain juga berkembang, para pengguna cms non komersial (gue termasuk di dalamnya) yang sebagian dari mereka juga tidak sekedar memakai, tetapi juga me-‘ngoprek’ mungkin bisa diibaratkan seperti para filsuf aliran rasionalis seperti Descartes atau Plato.

Kebutuhan akan cms yang bagus namun murah (bahkan gratis) merupakan sesuatu yang masuk akal, pilihan akan cms yang open source (jadi dijamin akan terus dibenahi bersama-sama) juga termasuk pada aliran ini. Namun di aliran yang disebutkan terakhir ini ada daerah kelabu yang terkadang perlu diamati secara hati-hati dengan menggunakan kacamata, kacamata itu bernama license.Ini adalah salah satu masalah yang gue alami belakangan ini, walaupun dirilis bersama source codenya, 2 cms bergenre blog favorit gue.. pMachine (beserta turunannya: Pro ataupun ExpressionEngine) dan MovableType tidak mengusung bendera GPL License, mereka meramu license masing-masing, kasarnya mungkin ‘kurang open source’. Jadi tawaran free (yang jadi salah satu alasan gue memilih cms tersebut selain karena kemudahan dan kelengkapan fasilitasnya) ibarat welcome drink suatu restoran, hidangan berikutnya gue kudu berpikir keras.. karena daftar menunya ternyata membuat gue agak mengerenyitkan dahi. Pesan secangkir air putih atau teh saja dan melanjutkan duduk-duduk di restoran tersebut tetap gratis sih, cuma tetap saja agak kurang bebas😀. Dan artikel Freedom 0-nya Mark Pilgrim bisa dibilang pencerahan bagi gue untuk bermigrasi ke WordPress, kebetulan sekali hasrat gue untuk renovasi web gue ini lagi menggebu-gebu.. nggak tahan juga ngelihat ini weblog setengah nggak jadi dari dulu. Lagian kalau WordPress ada suhu-nya yang bisa ditanya-tanya.

One thought on “WordPress dan Filsafat CMS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s