You are currently browsing the category archive for the 'Chicken FOSS' category.


Keidean dan keingetan soal program espeak ketika hari ini baca comicstrip xkcd yang nyeritain hacked laptop yang diinstallin speech synth. Nah salah satu yang bisa digunakan seperti di xkcd itu yaitu espeak yang mudah diinstall dan dijalankan dari console.

Jika menggunakan Ubuntu Linux, si espeak ini secara default sudah terinstall (mungkin untuk padanan TTS di Windows XP). Karena saya menggunakan Xubuntu, harus diinstall dulu:
$> sudo apt-get install espeak
Untuk menjalankannya cukup dengan mengetikan:
$> espeak "bakpaw bakpaw, bakpaw panush"
Nah sudah mirip dengan suara rekaman+pengeras suara abang-abang tukang bakpaw yang sering lewat di komplek perumahan kan? Variasi dagangan command line option lainnya adalah:
$> espeak "roti roti, roti raja" -s 80 -p 100 -v m4
-s = kecepatan ucap (kata per-menit), 80-370 defaultnya 170
-p = pitch control (ih kaya AFI), 0-99 defaultnya 50
-v = jenis suara, male m1-m6 atau female f1-f4

Membaca file text juga bisa, bisa dilihat lebih detail di manualnya. Program lain yang sejenis di GNU/Linux antara lain festival, distro GNU/Linux untuk penyandang cacat (salah satunya pernah didemokan oleh Pak Rusmanto di Debian Conference UI) biasanya menyertakan program-program text to speech ini.

Bekerja dengan komputer yang memiliki processor dan RAM yang terbatas seperti EeePC kadang membuat saya lebih perhitungan. Walaupun sudah menggunakan sistem operasi yang cukup ringan seperti Xubuntu Linux, saat banyak aplikasi dijalankan terjadilah kasus fakir resource. Salah satu aplikasi yang biasanya terpaksa dimatikan adalah pemutar musik, padahal hambar rasanya kalau bekerja tanpa iringan musik. Akhirnya salah satu solusinya yah kembali ke laptop console/terminal yang relatif lebih hemat.

Read the rest of this entry »

blog
Diajak ikutan oleh Belutz sekalian membantu meramaikan salah satu eventnya Pak Hoky yang sering membantu saya secara pribadi maupun komunitas, dengan jurus postingan kepepet pas jam makan siang akhirnya saya ikutan Kompetisi Blog Blix 2008. Supaya tetep ada soulnya topik yang dibahas adalah kaitan BeMall/Blix dengan opensource… plus sedikit penampakan si ayam tentunya :P Sekalian promo event Blix 2008 juga sih, soalnya IGOS Center dan anak-anak Klub Linux Bandung intensif ngisi acara juga.

blogBeberapa hari sebelum launching EeePC kebetulan sempat ngoprek bareng Belutz dengan memanfaatkan beberapa hardware yang dipinjamkan oleh Masterdata/Majalah Biskom (thanks to Pak Hoky atas supportnya ke komunitas opensource) dan Grapari Telkomsel Bandung berupa beberapa Asus EeePC 4G dan modem Huawei E220.

Kesimpulannya koneksi mobile internet 3G cukup mudah digunakan di EeePC berbasis sistem operasi opensource (default sistem operasi EeePC adalah Xandros Linux). Jadi tidak perlu khawatir untuk berinternet menggunakan sistem operasi linux walaupun para provider telekomunikasi lokal belum ada yang resmi menyatakan mensupport koneksi internet mereka di linux. Read the rest of this entry »

Kategori baru di blog ini (Chicken EeePC). The chicken just found itself riding another IT waves just like FOSS, Ubuntu Linux and Ruby on Rails. Seperti biasa, sekedar engineering journal pencatat oprekan-oprekan sebagai catatan pengingat dan semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan pengalaman sejenis. Diawali dengan EeePC 101 (one ‘o one). Read the rest of this entry »


Mas Priyadi di blognya pagi ini menginformasikan soal lomba Eee PC Blog Competition yang berhadiah sebuah ASUS Eee PC 4G warna hitam. Selain iseng mencoba untuk berpartisipasi, yang menarik dari event ini adalah ide dan awareness vendor besar seperti ASUS dalam memanfaatkan blogoshpere sebagai media untuk mengkampanyekan peluncuran produk mereka. Kalau beberapa bulan yang lalu para blogger teknologi (contohnya Mas Harry Sufehmi dan rekan-rekan Ubuntu Indonesia) cukup efektif mengangkat gaung Eee PC, kali ini menurut saya gaungnya makin luas dengan dirangkulnya para blogger nasional yang lebih umum dan populer melalui lomba blog ini. Read the rest of this entry »

The asian version of GUADEC, GNOME Asia Summit will be held in Beijing next year (2008). I’ve designed and submitted some designs for this event’s logo, please vote my submissions (the 8 logos on top) at www.gnome-cn.org/gnome-asia-submit/gas-logo-vote
All designs created with Inkscape on top of Ubuntu’s GNOME desktop (yupe I’m a GNOME user).

Basbang sih, tapi kemaren gue nemu all in one installer yang enak yaitu XAMPP. Kelamaan pake LAMP (Linux Apache MySQL PHP) dengan instalasi manual baik di Fedora atau Debian, pas lagi kudu nginstall WAMP di laptop Windows dan ibook Apple untuk keperluan presentasi gue rada ngerasa kurang puas dengan PHPTriad, FoxServ atau AppServ. Selain udah lama ngga ada update, kadang servicenya ngga nyala, terutama MySQLnya.. sering ngadat. Padahal waktu dulu gue jadi pengguna setia PHPTriad lancar-lancar aja, sekarang malah kadang pake ada acara session PHP gue bermasalah segala. Si XAMPP ini selain nyediain paket untuk Windows dan MacOS (Linux dan Solaris juga ada), packagingnya juga bagus baik dari tampilan, kemudahan maupun kelengkapan (Apache, MySQL, PHP+ PEAR, Perl, mod_php, mod_perl, mod_ssl, OpenSSL, phpMyAdmin, Webalizer, Mercury Mail Transport System, JpGraph, FileZilla FTP Server, mcrypt, eAccelerator, SQLite, and WEB-DAV + mod_auth_mysql ). Versi downloadnya juga bisa milih, mau yang komplit atau seperlunya. Thanks buat Kai Seidler dan tim Apache Friends untuk tools yang menyenangkan ini.


When prehistoric mammoth installing SuSE linux 9.1, infrared port detection problem made this species extinct. Udah ngehabisin cheese stick 1 keler, install gagal mulu. Beuraaaat… kapan sih ada distro Linux yang berbasis/sehandal debian (apt-get dan etc-nya yg rapih ituh tuh tuh), gampang diinstall (X Windownya… X Windownya, kami ulangi: X Windownya), cocok buat laptop (semua hardware kedetect), ringan (ngga GNOME bacok!), liveCD kalo bisa… kapan pan pan???

Dalam filsafat, pencarian akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar kenyataan dan ilmu pengetahuan terus berkembang sejak jaman Plato, Descartes, hingga Sartre.. dan tidak akan pernah berhenti karena pikiran manusia semakin haus dan berkembang. Menurut gue, begitu juga halnya dengan dunia content management system. Quest mencari suatu sosok cms yang ideal terus berlanjut seiring perkembangan internet dan programming, definisi ideal sendiri memiliki sudut pandang masing-masing. Layaknya empirisme yang diusung Locke atau Hume di dunia filsafat, aliran cms komersial sudah memiliki klasifikasi-klasifikasi suatu ultimate cms dengan ukuran yang jelas, bagi penganut aliran ini.. harga menunjukan kualitas, mungkin cms ala Vignette salah satu contohnya. Tapi aliran lain juga berkembang, para pengguna cms non komersial (gue termasuk di dalamnya) yang sebagian dari mereka juga tidak sekedar memakai, tetapi juga me-’ngoprek’ mungkin bisa diibaratkan seperti para filsuf aliran rasionalis seperti Descartes atau Plato.

Kebutuhan akan cms yang bagus namun murah (bahkan gratis) merupakan sesuatu yang masuk akal, pilihan akan cms yang open source (jadi dijamin akan terus dibenahi bersama-sama) juga termasuk pada aliran ini. Namun di aliran yang disebutkan terakhir ini ada daerah kelabu yang terkadang perlu diamati secara hati-hati dengan menggunakan kacamata, kacamata itu bernama license.Ini adalah salah satu masalah yang gue alami belakangan ini, walaupun dirilis bersama source codenya, 2 cms bergenre blog favorit gue.. pMachine (beserta turunannya: Pro ataupun ExpressionEngine) dan MovableType tidak mengusung bendera GPL License, mereka meramu license masing-masing, kasarnya mungkin ‘kurang open source’. Jadi tawaran free (yang jadi salah satu alasan gue memilih cms tersebut selain karena kemudahan dan kelengkapan fasilitasnya) ibarat welcome drink suatu restoran, hidangan berikutnya gue kudu berpikir keras.. karena daftar menunya ternyata membuat gue agak mengerenyitkan dahi. Pesan secangkir air putih atau teh saja dan melanjutkan duduk-duduk di restoran tersebut tetap gratis sih, cuma tetap saja agak kurang bebas :D. Dan artikel Freedom 0-nya Mark Pilgrim bisa dibilang pencerahan bagi gue untuk bermigrasi ke WordPress, kebetulan sekali hasrat gue untuk renovasi web gue ini lagi menggebu-gebu.. nggak tahan juga ngelihat ini weblog setengah nggak jadi dari dulu. Lagian kalau WordPress ada suhu-nya yang bisa ditanya-tanya.